Jakarta Ekspost, Ketika beredarnya info sepenggal dimedsos menyebut pelaku pembunuhan di Sungai Akar adalah pekerja koperasi, tampa berfikir panjang netizen langsung berkesimpulan pelakunya adalah orang Batak atau Nias, karena yang popular dan aduhainya menjalankan usaha koperasi berjalan di Kota Sungai berasal dari negeri tersebut.
Dengan diamankannya Reka berasal dari Palembang negerinya Sriwijaya juga pekerja koperasi Duma, Dusun Baru oleh tim Ops Sareskrim Polres Kerinci, karena dirinya diduga sebagai pelaku tunggal pembunuhan terhadap Ramon warga Desa Talang Lindung, maka terang lah sudah bahwa tak ada kaitannya dengan suku nias dan suku batak.
Setelah Viktor Gulo penasehat hukum persadaan Nias Kota Sungai Penuh dan Kerinci memberi klarifikasi terkait rumor yang berkembang sebagaimana dilansir oleh Media Online Warta Satu beberapa waktu lalu dengan penulisnya Heru Srageu.
Kini, salah seorang pengurus Pemuda Batak Bersatu angkat bicara, katakanlah Nan Tulang Wak namanya. Ia menyampaikan bahwa memang hampir umumnya pekerja koperasi berjalan adalah orang Batak dan Orang Nias, tapi keberadaannya terorganisir dan terarah dengan juntrungan kuatnya aturan dan hukum berlaku termasuk menjunjung tinggi norma budaya dan etika adat bermasyarakat.
“PBB Pemuda Batak Bersatu selaku organisasi besar nasional yang ada pengurusnya diseluruh wilayah Kota dan Kabupaten se Indonesia tak hanya didirikan guna memikir kepentingan dan kemajuan anggotanya saja, tapi juga dihimpunkan agar bisa berkontribusi terhadap pemerintah, pembangunan dan masyarakat dimana saja tempat keberadaannya, dengan tetap mematuhi aturan perundangan dan hukum berlaku,” terang Nan Tulang Wak.
Secara otomatis, tegasnya seluruh persadaan menurut marga masingnya termasuk persadaan dari Nias wajib mampu menjabarkan prisip tersebut ditengah organisasinya. Hingga, nan tulang wak yakin bahwa secara personnya juga orang batak maupun orang Nias tak akan macam macam diketika mana saja keberadaannya. Apalagi di Kota Sungai Penuh dan Kerinci.
“Penanaman prisip seperti itu, diyakini berbuah konsistensi terhadap kenyamanan dan kerukunannya dalam menjalani hidup bermasyarakat atau orang banyak,” imbuhnya.
Diharapkannya, kejadian menimpa Ramon tidak terulang kembali di Kota Sungai Penuh dan Kerinci. Tak ketinggalan terhadap seluruh kemajemukan yang ada agar senantiasa menjunjung prisip dimana bumi dipijak, maka disitulah langit dijunjung.
“Bumi dan rakyat Kincai telah banyak memberi terhadap siapapun kita, hingga sewajarnya pula kita menjaga dan memeliharanya, termasuk menguat kebersamaan dan rasa bersaudara serta menjaga stabilitas kerukunan hidup bermasyarakat,” pungkas Nan Tulang Wak.@ Yd,Yid,Yi dan Riles.




