Jakarta Ekspost, Tak hanya dikabarkan Pemerintah Desa terpaksa patungan demi suksesnya program nasional penanganan stunting ditingkat daerah karena minimnya ketersediaan anggaran di dinas terkait ulah pemangkasan anggaran secara nasional.

Senin 11/8, Pemkot Sungai Penuh terpaksa kembali mengeluar jurus kegotong royongan yang diwariskan oleh nenek moyang sealam Kincai yakni “pupu becanting” dengan nama kerentnya 3S Segenggam beras, Sebutir telur dan Seribu rupiah yang dipungut dari tiap ASN yang ada dalam lingkup Pemkot Sungai Penuh demi suksesnya penanganan stunting.

Peluncuran inovasi 3S Kota Sungai Penuh yang digelar oleh Sekda Alfian mewakili Wako dan diikuti oleh para pejabat, ASN dari berbagai OPfD dan TP PKK, disertai penyerahan simbolis donasi 3S untuk masyarakat penerima manfaat berlangsung seiring dengan kegiatan apel gabungan Senin di halaman kantor Wali Kota Sungai Penuh.

Dalam sambutannya, Sekda Alpian menjelaskan bahwa inovasi 3S merupakan gerakan sosial yang mengajak seluruh ASN dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam membantu warga yang membutuhkan, khususnya dalam pemenuhan gizi dan kebutuhan pokok.

“Gerakan ini sederhana, tetapi jika dilakukan bersama-sama akan memberikan dampak besar bagi mereka yang membutuhkan. Segenggam beras, sebutir Telur dan seribu rupiah dari setiap orang dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi banyak keluarga dalam mencegah dan menangani Stunting,” ujar Alpian.

Ia berharap inovasi 3S dapat menjadi budaya gotong royong yang berkelanjutan, menumbuhkan rasa kepedulian sosial, dan menguatkan solidaritas di tengah masyarakat Kota Sungai Penuh.

Sontak, membuat banyak kalangan jadi terkejut karena baru tau percis sebegitu babak belurnya keuangan daerah yang dihantam oleh keganasan kebijakan pemangkasan anggaran secara nasional. Hingga, untuk menggelar program mendasar terpaksa menyusahkan daerah secara pribadinya.

Dikatakan oleh Iwan Punai salah seorang aktifis kopi setengah air penuh sealam Kincaii pantas disebut bahwa program nasional Prabowo adalah sesuatu tak terarah dan terjadi ketidak selarasan dalam penuntasan masalah.

“Ketika menyebut makan bersama gratis bagi anak sekolah bukan main baiyo iyonya read-banget, sementara bagaimana kelangsungan terhadap anak dibawah umur jadi terabai dalam penanggulangan stunting jadi terabai. Negara macam apa ini? Kan begitu” kata Iwan Punai.

Lanjutnya lagi, secara intelijen terkesan kerja intelijennya sengaja ditumpulkan dalam mengaji dan menggali bagaimana kondisi sesungguhnya terjadi didaerah guna didapatkan solusi hanya karena tunduk pada kebijakan nasional, hingga dampak dari sebuah kata demi kebijakan nasional terabaikan.

“Disebut Pemerintah dan Negara adalah sesuatu yang sinkron kenyaman dan stabilitasnya dari tingkat pusat sampai daerah, bukannya sebuah ketimpangan berbentuk Pusat yang disibukkan dengan penghamburan uang bagi ketahanan pangan dan makan bersama gratis sementara Pemerintah daerah mesti bersitunggit read-repot kesana sini mencari tambahan dana untuk ragam tuntutan pogram mesti disukseskannya” pungkas Iwan Punai. “Iyo pulo, itu Kaw,” sergah hantu bisik ntah dari mana pula datangnya.@Yd,Yid,Yi dan Riles