Jakarta Ekspost, Patut diyakini, ada benarnya apa yang dikatakan oleh Alfin Azhar bahwa kemenangannya dalam Pilwako Sungai Penuh yang lalu tak memiliki beban moril khusus sebagai hutang yang mesti segera dibayarnya seperti dengan jabatan maupun dalam bentuk lainnya.
Demikian juga terkuak dari pernyataan tak resminya Azhar Wawako Sungai Penuh dihadapan kalangan Pers yang mempertanyakan soal mutasi, hingga pembicaraannya sampai beliau harus berucap “pun umpamanya bila ada jatah tim untuk menduduki jabatan, tapi saya tak bisa memenuhinya karena ketika Pilwako tak seorang pun ASN yang datang kerumah ataupun bertemu saya untuk mendukung kami bersama Alfin”.
Buktinya, sudah memasuki akhir Agustus ini belum terlihat adanya gelagat Wako Sungai Penuh Alfin beserta Wawako Azhar untuk menggelar agenda wah yang mengerikan dikalangan pejabat eselon Pemkot Sungai Penuh, meski tak sedikit pejabat kelimpungan seperti stop kontak mendadak turun disenggol oleh petir disetiap mencuapnya isu bakal adanya pelantikan.
Kondisi timbal balik tersebut adalah kenyataan yang masuk akal dan cukup beralasan, karena siapapun tau ketika Pilwako yang lalu hampir ratanya pejabat maupun ASN tahan uji dan telah teruji kinerjanya dilingkup Pemkot Sungai Penuh lebih memilih mengambil sikap balas budi terhadap kubu Ahmadi Zubir Wako Waktu itu, Alfia Santoni Wawako waktu itu, Pusri Amsy mantan Sekda, dan Fikar Azami mantan Ketua DPRD juga putera dari mantan Wako Sungai Penuh.
Begitulah hebat dan luar biasanya kemenangan yang diraih oleh Alfin Azhar, hingga keduanya bisa dipercayai memimpin Kota Sungai Penuh tampa bisa diinterpensi oleh pihak manapun juga. Namun, yang namanya mengelola Pemerintahan, Pembangunan dan kehidupan sosial bermasyarakat memiliki prisip kuat mesti dipenuhi serta ditegakkan yakni peningkatan dan pengembangan dari setiap manfaat yang diraih oleh kerja masing pejabat notabenenya tongkat tongkat dari Kepala Daerah dan Wakilnya.
Tentu, perlu adanya evaluasi ataupun penilaian darinya terhadap kualitas dan produksi kerjanya yang ada manfaat besarnya dalam menyukseskan peningkatan bagi kemajuan menuju Kota Sungai Penuh Juara yang dicanangkan oleh Alfin Azhar.
Koloborasi kepemimpinan antara Alfin seorang berdisiplin ilmu hukum dengan Azhar seorang mantan anggota dewan, maka diyakini keduanya pasti akan mengedepankan apa yang disebut pertimbangan tekhnis dan politisnya ketika harus memberhenti, mengangkat maupun mempromosi pejabat eselon dilingkup Pemkot Sungai Penuh.
Alasan tekhnis yang menjadi faktor utama dimaksud, adalah bagaimana menempatkan seseorang pejabat sesuai dengan keahliannya yang teruji tak sebatas bisa bekerja dan bisa mempertanggung jawabkannya secara hukum semata, tapi yang lebih pentingnya adalah sejauhmana maupun sebesar apa target dan capaian manfaat bisa diraih atau digelarnya bagi kemajuan.
Perlu adanya pertimbangan zecara politisnya, bermaksud tak sebatas mampu mereda segala riak berpotensi terjadi guna stabilitas ditengah tim, ditengah kehidupan bermasyarakat secara luasnya Kota Sungai Penuh. Tapi juga, perlu alasan karena memiliki hubungan dan relasi yang baik terhadap dewan serta koneksitas maupun akses yang luas dan kuat terbangun ditingkat Provinsi, Pusat, swasta termasuk dunia internasional.
Pasalnya, Kota Sungai Penuh termasuk Kabupaten Kerinci bukanlah seperti daerah kaya lainnya tinggal kesanggupannya menghabis apa yang ada, tapi daerah serba terbatas yang mesti memiliki kesanggupan untuk bisa mengguna dan memanfaatkan yang ada serta bagaimana bisa merenggut anggaran dari luar.
Demi, menegakkan apa yang disebut bahwa suksesnya otonomi maupun kemandirian suatu daerah sangat tergantung pada bagaimana Kepala Daerah dan Wakilnya bisa berlaku seperti Top Makernya sebuah perusahaan, sedangkan Pejabat Eselonnyo bisa berlaku seperti bagaimana alot dan uletnya manejer sebuah Perusahaan. Amin semoga, penulisnya katakan sajalah orang jauh tapi dekat dihati namanya.@Yd,Yid,Yi dan Riles.


