Jakarta Ekspost.com, Semenjak ditutupnya lantai 3 Kincai Plaza Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi oleh Pemkot bersama kaum adat 3 luhah beberapa waktu lalu karena aktifitas terselubungnya dianggap sarat dang ding dong seperti tabiatnya mbah surip kemana mana minta digendong dong read-mesum.

Ternyata telah membawa dampak negatif besar terhadap kelangsungan kehidupan sosial masyarakat ditiap penjuru pusat Kota Sungai Penuh karena lingkungan dan jam istirahat malamnya terusik oleh lalu lalang wanita penghibur.

Tak hanya tempat hiburan remang terbuka dijadikan markas pelariannya. Tapi juga, tempat karaoke yang berkedok hiburan keluarga telah dijadikan sarang menunggu mangsa sijolinya yakni lelaki hidung belang yang dikenal hoby basing carak dengan kenikmatannya kencing tegak dan lemak ditempat.

Saking maraknya mesum bebas di Kota Sungai Penuh, ragam model “lapek bugih’ yang dijajalkan dengan serba rasa seperti rasa strowbery, anggur, apel, melon, vokat, mangga, dan bahkan rasa nyum nyumnya ketimun bungkuk juga bisa didapat, dengan jumlahnya jauh lebih banyak bila dibandingkan ketika masih dibukanya lantai 3 kincai Plaza yang dikawal ketat oleh para kepala suku berbatu geok jenis incek biji dengan beberapa aturan ketat mesti dipatuhi pengunjung, seperti anak sekolah dan dibawah umur dilarang naik dan masuk.

Menurut pantauan, para wanita penghibur yang beroperasi di Kota Sungai Penuh tak sebatas ayam import yang didatangkan dari luar daerah. Tapi juga kebanyakannya juga adalah jenis ayam sayur lokal yang berstatus janda, bahkan telah bersuami dengan alasan bukan main mandirinya menyebut demi menopang kebutuhan rumah tangga sambil manggaleh ketek ketek.

Kebebasan usaha mesum secara terbuka dimasa tarakinainya read-kini Kota Sungai penuh tak ubahnya seperti membuka panggung rakyat, karena siapapun bisa melihat dan ikut menikmati permainannya ditempat hiburan remang, apalagi tempat karaoke yang berkedok hiburan keluarga dengan prisip sama yang penting ada kipeng kalau cucok harga barang bisa diangkat dan bisa juga langsung disayat ditempat.

Tragisnya, dampak dari kebebasan mesum terbuka tak sedikit generasi muda dan anak sekolah yang sudah ikut ikutan meniru tabiat Adam dengan Hawa ketika masih dalam syurga dahin karena keburu melawan larangan tuhan ingin tau dan mendekati bendo dengan lemak selalu ada didepan matanya.

Realita mirisnya negeri dan anak negeri ini, tak bisa dikelabui dengan dalih sekedar bukicok mulang read-kata begitulah disebut daerah wisata butuh tempat hiburan, kecuali tindakan tegas segera yang diharapkan dari adat, aparat termasuk Pemkot Sungai Penuh maupun Pemkab Kerinci.

Bila perlu digelar segera rahazia secara besar besaran bersama kaum adat, karena disebut tempat hiburan mesum daerah wisata bukanlah seperti panggung rakyat bebas dibuka dimana penjuru, tapi ditempatkan pada kawasan tertentu dan tertutup yang jauh dari keramaian umum, dan bukan pula mempekerja wanita penghibur lokal.

Contohnya seperti pengembangan daerah Wisata di Bali, masyarakat lokalnya hanya disibukkan dengan aktifitas memasak dan usaha kerajinan dirumah masingnya untuk disiapkan bagi kebutuhan para wisatawan.

Tak heran, banyak diantara warga yang kesal melihat nasibnya negeri sampai menyarankan agar lantai 3 Kincai Plaza dipungsikan kembali demi menjaga dan mengurangi dampak mesum secara terbuka ditengah kehidupan masyarakat umum yang semakin marak disetiap penjuru Kota Sungai Penuh seperti terjadi dimasa masa tarakinai.@Yd,Yid,Yi dan Riles.