Ketika masa dahin read-dulu kalanya,di Kincai hampir umumnya masyarakat yang bermukim dimuara sungai terdiri dari komunitas yang sama, dan keberadaannya karena beberapa faktor diantaranya alasan lebih dekat dengan usaha pertanian sawahnya sekaligus bisa mudah mendapat ikan demi memenuhi kebutuhan anak dan keluarganya.
Bahkan, tak sedikit pula diantaranya karena adanya palah dan bebalah dengan sanak atau familynya yang memiliki lebih ditengah larik dan dusun, hingga dirinya sampai mengambil sikap merajuk dan menetap sampai beranak pinak disekitar bantalan sungai yang ada dibagian muara.
Tak heran, hampir seluruh anak keturunannya dimasa sekarang dikenal tangguh dan alot karena sudah terbiasa serta terlatih menempa hidup agar bisa duduk sama rendah dan tegak sama tinggi dengan sanak saudara, family dan karib kerabat yang sempat menyisihkannya ketika berada ditengah larik dan dusun.
Singkat kata, negeri Pulau Pandan, Kerinci misalnya, sebelum menjadi desa dengan penduduknya yang sudah majemuk dimasa sekarang ini karena adanya warga pendatang yang datang untuk berladang, tak hanya negeri yang dikenal indah dengan pesonanya selalu aduhai ketika dipandang.
Tapi, dibalik semua, sesungguhnya Pulau Pandan juga memiliki kisah unik yang sudah menjadi cerita daerah bagi masyarakat sealam Kincai mulai dari Penetai Pematang Lingkung sampai Telun Berasap Tanah Sikudung.
Terendnya dikenal dengan ceritanya “Gadih Pulau Pandan menyandanv tangguk dilengan sedang duduk termenung seorang diri diatas batu sambil memikir nasib dan negeri ntah kapan berubahnya”. Lantaran, kekhwatirannya bila datang musim kemarau panjang dan musim hujan lebat yang bisa menghancur serta menghanyutkan negeri serta perekonomiannya.
Saking tak habis fikirnya, pada ujung kisah diceritakan Gadis yang berambut panjang yang duduk termenung diatas batu dikenal cerdas lagi peduli terhadap sesama itu sampai menghilang ntah kemana rimba belantaranya tampa pernah lagi terlihat batang hidungnya ditengah masyarakat.
Ada anggapan menyebut menghilangnya gadis berambut panjang tersebut, lantaran dirinya telah resah dan gelisah menyaksi para tunggu negri terutama kaum perianya tampa kerja dengan kebiasaan siangnya ngorok read-tidur semata dan malamnya sampai memasuki subuh tak henti disibukkan permainan judi dan sabung ayam penuh angan.
Hingga, kaum hawanya terutama para ibu rumah tangga terpaksa turun tangan membawa tangguk turun kesungai Batang Merangin sampai kedalam Danau Kerinci, meski terkadang keciput sawah lamolah yang didapat dan bisa dibawa pulang yang penting perut anak dan keluarga tidak keroncongan.
Alikasah ini, merupakan suatu realita yang boleh dikatakan ada benarnya, terbukti tak sedikit sawah dan ladang tak digarap sampai terjual oleh kaum perianya dengan alasan bisa dijadikan modal untuk biaya merubah nasib seperti merantau kenegeri jiran Malaysia, walau terkadang kembali dari rantaunya masih tetap saja menyusahkan keluarga dan kerab berbuat onar ditengah larik dan dusun.
Diharapkan, cerita daerah Pulau Pandan ini bisa menjadi cermin untuk menyadarkan siapapun kita semua Kincai bahwa hidup ini kata Jokowi adalah kerja, kerja dan bekerja. Seiring dengan harapan pembangunan bendungan PLTA KMH sebagai destinasi wisata hendaknya tak hanya bisa membuka ruang kerja dan usaha bagi Pulau Pandan, namun terhadap Devisi Humas PLTA Aslori diharapkan juga untuk bisa membangun tugu gadih pulau pandan berambut panjang sedang duduk diatas batu sambil menyandang tangguk notabenenya pejuang negeri yang hilang tak tau dimana rantaunya dan mati tak tau dimana kuburnya. Amin semoga, Penulisnya katakan sajalah orang jauh tapi dekat dihati namanya.@Yd,Yid,Yi dan Riles.




